Lewis Hamilton mengakui bahwa dirinya sempat meremehkan kapabilitas Red Bull di ajang Formula 1, sekaligus memuji lonjakan performa luar biasa tim tersebut sepanjang musim kompetisi 2026.
Setelah sempat mengalami awal yang berat di bawah regulasi baru F1 akibat membangun mesin mandiri pertamanya, skuad pabrikan yang bermarkas di Milton Keynes ini bangkit secara impresif lewat kemenangan dominan beruntun dari Max Verstappen di Malaysia dan Singapura.
Juara dunia tujuh kali tersebut sebelumnya sempat melontarkan komentar kontroversial pada tahun 2011 dengan menyebut rivalnya itu sekadar 'perusahaan minuman', meski kemudian mengakui sangat menyesali pernyataan tersebut di tahun-tahun berikutnya.

Menanggapi klaim dari Isack Hadjar yang menyebut Ferrari memiliki mobil tercepat pada balapan terakhir di Singapura, pembalap asal Inggris berusia 41 tahun itu memberikan pandangan berbeda menjelang Grand Prix Amerika Serikat.
"Well, firstly, I think Isack is an amazing driver. We’re going to have different opinions there," ujar Hamilton memberikan tanggapannya mengenai persaingan ketat di grid.
Ia juga menambahkan bagaimana rivalnya sekali lagi mematahkan prediksi banyak pihak terkait pengembangan unit daya mereka bersama Ford, yang dinilai mampu mengungguli pabrikan mapan seperti Mercedes dan Ferrari.
"Ultimately, they’ve done an amazing job. Red Bull have done an amazing job for many, many years. They continuously surprise me, and I put my hand up many, many years ago when I was younger," lanjutnya mengenang masa lalu.
Hamilton tak ragu mengangkat tangan dan mengakui kesalahan prediksinya, mengingat dirinya dulu meragukan tim tanpa warisan sejarah otomotif klasik seperti McLaren atau Ferrari mampu mendominasi kancah balap jet darat.
"I was like, there’s no way they’re going to be able to do what these other teams like McLaren with all that heritage, Ferrari with all that heritage, but they have, and they proved me wrong, and they’ve continued to have amazing success over the years," imbuhnya.
Keraguan tersebut kembali muncul ketika era regulasi mesin baru dimulai, di mana ia meyakini tidak ada pihak yang bisa menandingi sumber daya serta pengalaman panjang Mercedes maupun Ferrari dalam merancang power unit unggulan.
"But this one is where the engine, I was like, there’s no way that anyone’s going to be able to build a better engine than what Mercedes, for example, or Ferrari are capable of doing with the resources they have and the experience they have and the IP. And yet again, they proved us wrong, everybody wrong again, and they built the best engine," pungkas sang juara dunia.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!