Will Buxton, komentator Formula 1, menuding para pembalap yang enggan mengecam secara terbuka perilaku buruk penggemar mereka sebagai "komplisit" terhadap kelangsungan pelecehan online. Pernyataan ini muncul setelah insiden di Grand Prix Azerbaijan yang melibatkan Lando Norris dan Franco Colapinto.
Kronologi bermula ketika Colapinto mengalami lock-up dan memicu tabrakan berantai saat restart safety car di Baku. Pembalap Alpine itu bertabrakan dengan rekan setimnya, Pierre Gasly, yang kemudian menyeruduk Norris. Ketiganya harus tersingkir dari balapan. Usai balapan, Norris melontarkan komentar pedas bahwa beberapa pembalap "tidak seharusnya berada di F1" dan menyarankan Colapinto diberi larangan balapan. Meski kemudian meminta maaf, gelombang pelecehan online dari basis penggemar Argentina Colapinto sudah tak terbendung.
Dalam podcast Up To Speed, Buxton menegaskan bahwa tokoh publik, khususnya atlet, memiliki tanggung jawab untuk menghentikan ujaran kebencian dari penggemarnya. "Sudah menjadi kewajiban siapa pun figur publik, terutama olahragawan, jika basis penggemar mereka terlibat dalam retorika semacam ini terhadap penggemar lain, pemain lain, atau siapa pun di ruang media sosial. Saya rasa sudah sepenuhnya menjadi kewajiban mereka untuk menyerukan hal itu," ujarnya.

Ketika diingatkan bahwa Colapinto pernah mengeluarkan pernyataan menentang komentar kasar dari penggemarnya, Buxton balik bertanya: "Tapi tidak minggu ini, dan ini sekarang menjadi kejadian rutin. Jadi, jika dia sudah melakukannya, apakah dia melakukannya dengan cukup tegas? Dan ini bukan hanya masalah Franco Colapinto." Ia lantas menyoroti pola serupa yang menimpa Sergio Perez dan penggemarnya, serta insiden pasca-Abu Dhabi 2021 ketika penggemar Lewis Hamilton melontarkan kata-kata keji, dan Nicholas Latifi yang menerima ancaman pembunuhan.
Buxton menekankan bahwa para pembalap harus berani bersuara: "Adalah kewajiban para pembalap yang basis penggemarnya melontarkan komentar seperti ini untuk berdiri, mengatakan sesuatu, dan berkata, 'Kamu tidak mewakili saya, dan saya tidak ingin kamu membuat komentar ini.' Jika tidak, kamu komplisit dalam kelanjutannya. Kamu harus mengambil sikap. Jika kamu benar-benar ingin orang percaya bahwa kamu ingin ini berakhir, maka kamu harus mengambil posisi, karena diam adalah komplisit."
Pernyataan Buxton ini menyoroti tantangan besar dalam era digital, di mana garis antara rivalitas di lintasan dan perilaku penggemar di dunia maya semakin kabur. Insiden di Baku menjadi pemicu diskusi lebih luas tentang etika dan tanggung jawab sosial di dunia motorsport, terutama bagi para pembalap yang memiliki pengaruh besar terhadap jutaan pengikut.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!