James Wharton tidak butuh sorotan untuk membuktikan dirinya. Pembalap Australia berusia 20 tahun itu justru merasa tekanan yang lebih besar adalah ketika semua mata tertuju padanya. Kini, dengan kursi Trident di Formula 2 untuk musim 2026, ia siap mengubah ekspektasi menjadi bahan bakar.
Wharton kembali ke tim yang memberinya debut satu kali di Qatar pada akhir 2025. Setelah dua musim di Formula 3 yang penuh liku, ia akhirnya naik ke kelas premier junior. Tapi perjalanannya tidak semulus rekan senegaranya, Oscar Piastri dan Jack Doohan.
Di F3, Wharton finis ke-18 pada 2025 dan meningkat ke posisi 17 musim ini bersama Prema. Kemenangan sprint di Barcelona dan podium kedua di Madrid menjadi puncak, namun total 39 poin jelas belum memuaskan. "Saya jelas menginginkan lebih banyak dari tahun ini," ujarnya kepada Speedcafe.

Meski begitu, Wharton yakin bahwa performanya tidak tercermin sepenuhnya di klasemen. "Di motorsport, banyak orang pintar, dan Anda bisa melihat dari luar apa yang terjadi antar tim," tambahnya. "Saya merasa ada bagian di mana saya melakukan pekerjaan dengan sangat baik."
Keyakinan itu ia jaga dengan melihat jejak Piastri dan Doohan yang juga menempuh jalur F2 sebelum menembus F1. "Saya tidak berbeda dengan Jack. Saya tidak berbeda dengan Oscar. Kami datang dari tempat yang sama dan punya mentalitas serupa," tegas Wharton.
Musim ini, tanpa afiliasi akademi F1, Wharton justru merasa lebih bebas. Ia tahu hasil kuat di F2 harus cukup untuk menarik perhatian tim-tim grand prix. "Dengan musim yang saya jalani, saya bisa masuk tanpa ekspektasi," ujarnya. "Saya bisa tampil maksimal setiap akhir pekan."
Bagi Wharton, membuktikan bahwa kerja keras akan terbayar adalah misi pribadi. Ia percaya bahwa kesempatan di F2 datang bukan tanpa alasan. Kini, ia hanya perlu menunjukkan bahwa dirinya memang layak berada di sana.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!