SPONSORED

Vowles: Cost Cap Perparah Jurang F1, Tim Kecil Tercekik

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Vowles: Cost Cap Perparah Jurang F1, Tim Kecil Tercekik
TO NEWS OVERVIEW
James Vowles says the cost cap is making F1 into a two-tier competition. Image: XPB Images

James Vowles tidak hanya bicara soal mobilnya yang kelebihan berat. Dalam konferensi pers di Sepang, Jumat, principal Williams itu justru melontarkan kritik tajam terhadap aturan cost cap yang ia nilai gagal menciptakan kompetisi lebih merata. Baginya, regulasi yang diperkenalkan lima tahun lalu itu kini menjelma jadi jebakan bagi tim-tim yang mencoba bangkit.

Sejak 2021, Formula 1 membatasi pengeluaran tim sebesar 215 juta dolar AS per musim. Tujuannya mulia: menciptakan keberlanjutan finansial, memperkecil jarak performa, dan menghadirkan kesetaraan sportif. Namun Vowles melihat hanya satu dari tiga misi itu yang tercapai. “Untuk keberlanjutan finansial, bukan hanya tercapai, tapi kita melampauinya,” ujarnya. “Tapi dua tujuan lainnya, kesetaraan sportif dan pemadatan kompetisi, justru gagal.”

Data yang ia paparkan cukup mengganggu. Dalam lima musim era cost cap, empat tim teratas, Mercedes, Red Bull, McLaren, dan Ferrari, meraup 83 persen poin yang tersedia. Angka itu naik dibanding periode sebelumnya yang hanya berkisar 70-an persen. “Artinya, kami membuat situasi semakin buruk,” tegasnya. “Empat besar tetap empat besar, sisanya berebut sisa 17 persen poin.” Frekuensi naik podium pun merosot dari 10 persen menjadi 5 persen bagi tim di luar kelompok elit.

Lewis Hamilton's Custom Khaite Outfit Steals Show at Monza
Read AlsoLewis Hamilton's Custom Khaite Outfit Steals Show at Monza

Vowles tidak menyangkal bahwa Williams juga tengah terpuruk. Ia mengakui kesalahan musim dingin lalu yang membuat mobilnya kelebihan berat dan performa tim mundur. “Saya bertanggung jawab atas kesalahan itu, dan itu terpisah dari kritik saya soal cost cap,” jelasnya. Namun, ia ingin publik melihat akar masalah yang lebih dalam: ketimpangan struktural yang justru diperparah oleh batasan anggaran.

ADVERTISEMENT

Pengalaman pindah dari Mercedes ke Williams pada awal 2023 membuka mata Vowles. Ia menyadari betapa tertinggalnya infrastruktur tim kecil. “Saat Anda masuk ke era cost cap, uang tidak bisa saya belanjakan untuk mobil. Saya harus menggelontorkan puluhan juta hanya untuk sistem dasar, agar tahu di mana letak komponen di pabrik,” tuturnya. “Itu bukan untuk sayap depan atau upgrade, tapi untuk hal-hal yang paling mendasar.”

Kondisi ini menciptakan apa yang ia sebut sebagai ‘jebakan cost cap’. Tim seperti Williams dipaksa berinvestasi pada fondasi operasional yang seharusnya sudah ada bertahun-tahun lalu, sementara rival yang sudah mapan bisa mengalokasikan dana sepenuhnya untuk pengembangan performa. “Jika saya melakukan hal-hal jangka pendek, saya selalu bilang itu investasi masa depan. Sekarang Anda paham mengapa,” tambahnya.

Kritik Vowles ini bukan sekadar keluhan satu tim. Ini panggilan untuk meninjau ulang efektivitas cost cap. Jika tujuan utamanya adalah menciptakan kompetisi yang lebih ketat, data menunjukkan regulasi ini belum berhasil. Diskusi soal revisi mungkin perlu segera dilakukan, sebelum jarak antara si kaya dan si miskin di grid F1 semakin melebar.

ADVERTISEMENT

Discussion (0)

Join the Discussion!

Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.

Fast, secure, and hassle-free

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

RECOMMENDED FOR YOU