Max Verstappen mengambil sikap tegas terkait rencana Formula 1 menggelar balapan di Timur Tengah akhir musim nanti. Pembalap Red Bull itu menilai bahwa kompetisi seharusnya tidak pergi ke wilayah yang sedang dilanda konflik, meskipun secara pribadi ia mengaku senang balapan di sana.
Pernyataan Verstappen ini muncul di tengah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Teluk. Pada Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran, yang kemudian memicu ketegangan di negara-negara sekitar seperti Arab Saudi dan Qatar. Dampaknya, kalender motorsport dunia pun berantakan: FIA WEC membatalkan semua kunjungan ke Timur Tengah tahun ini, sementara balapan F1 di Bahrain akhir pekan ini terpaksa digelar di Malaysia.
F1 sendiri masih menaruh Qatar dan Abu Dhabi dalam rencana A mereka untuk mengakhiri musim 2026. Namun, keputusan final baru akan diambil pada pertengahan Oktober, dan pemerintah di berbagai negara masih memberlakukan peringatan perjalanan ke kawasan tersebut. Jika situasi tidak memungkinkan, Imola disiapkan sebagai tuan rumah balapan terakhir.

Di sisi lain, Lewis Hamilton justru menunjukkan dukungannya agar balapan tetap digelar. Juara dunia tujuh kali itu mengaku mencintai balapan di Timur Tengah dan percaya bahwa keadaannya masih aman. "Saya pribadi ingin pergi. Saya suka pergi ke Timur Tengah," ujar Hamilton. "Dari yang saya baca, sepertinya situasinya baik-baik saja. Tapi saya tidak punya semua informasi, jadi saya tidak tahu tingkat risikonya. Saya percaya Stefano [Domenicali] akan membuat keputusan yang tepat, tapi saya berharap kita bisa balapan di sana."
Verstappen, yang berbicara kepada ViaPlay, memiliki pandangan berbeda. "Biasanya, saya senang pergi ke Qatar dan Abu Dhabi," katanya. "Tapi ketika ada perang di dekatnya, dan beberapa negara sedang berkonflik, saya pikir kita tidak seharusnya pergi. Tidak peduli ada kontrak atau tidak. Tapi itu bukan keputusan saya."
Sejarah mencatat bahwa F1 pernah menghadapi dilema serupa. Pada 2011, GP Bahrain dibatalkan karena kerusuhan sipil, namun setahun kemudian balapan tetap digelar meski beberapa anggota tim Force India memilih pulang setelah terlibat insiden bom molotov. Pada 2022, GP Arab Saudi tetap berlangsung meski ada serangan misil ke fasilitas Aramco dekat sirkuit Jeddah.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan tensi yang belum mereda—terlebih Presiden Trump mengancam akan melanjutkan pemboman terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu November—keputusan F1 tidak akan mudah. Balapan Qatar dijadwalkan pada 27-29 November, sedangkan Abu Dhabi sepekan setelahnya. Semua mata kini tertuju pada Domenicali dan jajaran F1 untuk menentukan apakah balapan tetap digelar atau mencari alternatif yang lebih aman.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!