WRC, Sportrik Media - Sami Pajari memulai musim penuh keduanya di kelas utama Kejuaraan Reli Dunia FIA (WRC) bersama Toyota Gazoo Racing pada Rally Monte Carlo 2026, dengan tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi dibanding debutnya bersama mobil Rally1 musim lalu.
Rally Monte Carlo secara tradisional dikenal sebagai salah satu pembuka musim paling kompleks dalam kalender WRC. Pajari memahami tantangan tersebut dengan sangat baik setelah pengalamannya pada edisi sebelumnya, ketika ia harus menghentikan balapan pada hari terakhir akibat titik es yang tak terduga. Menjelang edisi 2026, kondisi cuaca kembali menjadi faktor utama, dengan suhu dingin, kemungkinan salju, serta kombinasi aspal kering, lembap, dan es yang diprediksi akan mewarnai jalannya reli, sebagaimana karakter klasik event ini dalam kalender resmi WRC 2026 yang tercantum di https://sportrik.com/wrc/calendar.
Memasuki musim ini, Pajari menilai fondasi teknis dan pemahaman terhadap mobil Rally1 sudah berada pada level yang jauh lebih solid. Satu musim penuh kompetisi di kelas tertinggi, ditambah pengalaman lintas permukaan, memberikan referensi penting dalam pengambilan keputusan setup dan manajemen risiko. Dalam konteks Monte Carlo, hal ini menjadi krusial karena kesalahan kecil pada pemilihan ban atau pembacaan grip dapat berdampak besar terhadap hasil dan posisi awal di klasemen WRC 2026 yang dipantau melalui https://sportrik.com/wrc/klasemen.
“Tentu saja sekarang jauh lebih mudah. Para mekanik telah melakukan pekerjaan yang sangat baik selama hari-hari pengujian. Kami juga sudah melakukan penyesuaian yang sangat baik terhadap kondisi ini. Saya sebagian besar senang dengan mobilnya,” ujar Pajari.
Meski spesifikasi dasar mobil tidak mengalami perubahan besar dibanding musim lalu, Pajari menekankan peningkatan terbesar datang dari sisi kepercayaan diri dan pemahaman karakter Rally1. Dalam kondisi bersalju seperti Monte Carlo, variabel eksternal tetap sulit diprediksi, namun pemahaman terhadap batas mobil memungkinkan pendekatan yang lebih terukur, terutama saat menghadapi transisi panjang antar permukaan yang menjadi ciri khas reli ini.
“Entah itu aspal kering atau salju dan es tebal, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Mobilnya hampir sama seperti tahun lalu, tetapi secara keseluruhan saya merasa jauh lebih percaya diri dan lebih memahami kemampuannya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pajari menyoroti kompleksitas teknis Reli Monte Carlo yang tidak hanya ditentukan oleh cuaca ekstrem, tetapi juga oleh karakter special stage yang sangat beragam. Beberapa etape dapat menyerupai lintasan balap dengan grip tinggi, sementara etape lain berubah drastis akibat bayangan es dan salju di area pegunungan, memaksa pereli menjaga fokus tanpa henti sepanjang reli.
“Reli Monte Carlo mungkin adalah reli paling menantang sepanjang musim, atau setidaknya salah satu yang paling sulit. Rentang kondisinya sangat luas, dengan salju, es, dan beberapa tahapan yang hampir seperti sirkuit balap,” tegas Pajari.
Dengan pengalaman beberapa kali tampil di Monte Carlo, Pajari berupaya menjaga pendekatan mental yang stabil. Fokus utamanya adalah konsistensi, menjaga konsentrasi pada reli berdurasi panjang, serta menghindari tekanan berlebihan pada fase awal musim. Pendekatan ini dinilai penting untuk membangun momentum jangka panjang, terutama menghadapi musim 2026 yang kompetitif dan menentukan dalam peta persaingan WRC.
“Saya mencoba tetap bersemangat dan tidak terlalu stres. Ini bisa menjadi reli yang sangat hebat dan juga menyenangkan untuk dikendarai,” pungkasnya.
Dengan bekal pengalaman, kesiapan teknis yang lebih matang, dan pemahaman mendalam terhadap tantangan Monte Carlo, performa Pajari pada seri pembuka akan menjadi indikator penting bagi konsistensinya sepanjang musim, sekaligus berpengaruh langsung terhadap dinamika awal kejuaraan sebelum WRC berlanjut ke putaran berikutnya.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!