CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, secara terbuka mengakui bahwa menaklukkan Marc Marquez dalam perburuan gelar juara dunia MotoGP 2026 merupakan tugas paling berat yang pernah dihadapi pabrikan asal Noale tersebut. Di tengah persaingan ketat antara dua pabrikan asal Italia ini, rivalitas memuncak menjelang seri balap akhir pekan ini di Sirkuit Mandalika.
Meskipun Ducati mendominasi kancah balap motor grand prix dalam empat musim terakhir, Aprilia menjelma menjadi penantang serius pada musim 2026 berkat lonjakan performa signifikan dari mesin RS-GP. Kombinasi kekuatan tim pabrikan dan skuad satelit Trackhouse Racing telah mempersembahkan tujuh kemenangan dari 16 balapan yang sudah digelar sejauh musim ini berjalan, menyamai total kemenangan mereka dari tiga musim sebelumnya.
Kendati Aprilia kerap dinilai memiliki motor paling serbaguna di grid, Ducati tetap mampu menjaga keseimbangan poin di klasemen pabrikan. Dominasi tersebut semakin terasa berkat kepiawaian Marquez yang sukses menyabet enam kemenangan dari sembilan balapan terakhir menggunakan motor pabrikan Borgo Panigale. Rivola bahkan tidak segan menyebut kombinasi antara sang juara dunia tujuh kali dan Ducati sebagai paket terbaik yang ada di paddock saat ini.

"Betapa sulitnya mengalahkan Marc? Saya pikir ini adalah tugas paling sulit yang bisa kami miliki," ujar Rivola dalam konferensi pers khusus di Mandalika. "Tahun lalu, saya bilang bahwa hal itu mungkin untuk dilakukan. Itu adalah pesan lebih ke dalam, untuk perusahaan, agar percaya bahwa kami bisa melakukannya. Tahun ini, kami telah mewujudkannya beberapa kali. Apakah kami akan berhasil hingga akhir atau tidak, masih terlalu dini untuk mengatakannya."
Dalam pertarungan perebutan gelar pembalap, Aprilia justru memiliki dua tumpuan sekaligus yaitu Jorge Martin dan Marco Bezzecchi yang berada di barisan terdepan dengan menyisakan enam seri tersisa. Sebaliknya, Ducati mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membackup Marquez yang kini berdiri sebagai pemimpin tunggal di kubu Borgo Panigale. Menjelang GP Indonesia, Martin memimpin tipis dua poin atas Marquez, sementara Bezzecchi menguntit di posisi ketiga dengan selisih 49 poin.
Ketika disinggung mengenai keuntungan atau kerugian memiliki dua pembalap yang saling bunuh poin demi gelar juara, Rivola menanggapinya secara positif. Dilansir dari Motorsport.com, ia menegaskan bahwa situasi ini justru membawa kepuasan tersendiri bagi pabrikan. "Pertama-tama, ini adalah sebuah kepuasan. Tentu saja, mereka masih akan saling mengambil poin satu sama lain. Tetapi saya pikir ini bagus untuk kejuaraan dan bagus untuk olahraga ini," tutupnya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!