Para pembalap MotoGP membantah anggapan bahwa penggunaan holeshot dan ride-height devices menjadi penyebab utama meningkatnya kecelakaan di tikungan pertama musim 2026. Perdebatan tersebut kembali mencuat setelah insiden besar di GP Catalunya membuat Alex Marquez dan Johann Zarco harus absen pada seri Mugello akhir pekan ini.
Marquez mengalami cedera punggung setelah menabrak KTM milik pemimpin balapan Pedro Acosta yang tiba-tiba kehilangan tenaga di tengah balapan. Sementara Zarco mengalami cedera lutut akibat kecelakaan besar di Tikungan 1 saat restart berlangsung.
Data analisis Dimitri Stathopoulos menunjukkan bahwa sejak Sprint Race diperkenalkan pada 2023, insiden Tikungan 1 telah menyumbang sekitar 20 persen cedera yang membuat pembalap absen dari balapan MotoGP. Situasi itu memicu kembali kritik terhadap penggunaan holeshot dan ride-height devices yang selama ini dipakai untuk menurunkan bagian depan dan belakang motor demi mengurangi wheelie dan meningkatkan akselerasi saat start.

Meski teknologi tersebut akan dilarang mulai musim depan karena seluruh pabrikan kini sudah memiliki sistem serupa, mayoritas pembalap MotoGP menilai perangkat itu bukan faktor utama di balik meningkatnya kecelakaan awal balapan.
“Pada akhirnya tikungan pertama setelah start memang selalu berbahaya dengan motor apa pun,” kata pemimpin klasemen Marco Bezzecchi.
“MotoGP jauh lebih cepat dibanding Moto2 atau Moto3 sehingga pengeremannya sangat sulit. Tetapi saya tidak berpikir itu karena devices. Semua pembalap pernah membuat kesalahan dan itu bagian dari balapan.”
Pemenang GP Catalunya, Fabio Di Giannantonio, juga menilai faktor terbesar justru datang dari karakter unik pengereman Tikungan 1 saat start. Menurutnya, pembalap tidak pernah memiliki referensi titik pengereman yang konsisten karena kecepatan saat memasuki tikungan selalu berubah tergantung launch awal.
“Saat lap normal, Anda mengerem di titik yang sama setiap lap. Tetapi saat start, semuanya berubah tergantung apakah Anda melaju lebih cepat atau lebih lambat,” ujar Di Giannantonio.
“Lebih mudah mengerem dari 360 km/jam setiap lap dengan referensi yang sama dibanding sekali datang di 300 km/jam tanpa tahu pasti di mana harus menghentikan motor.”
Di Giannantonio mengakui memperpendek jarak antara grid dan Tikungan 1 seperti yang diusulkan di Catalunya mungkin dapat membantu mengurangi risiko. Namun ia menilai insiden awal balapan tetap tidak akan pernah benar-benar hilang karena agresivitas pembalap pada lap pertama.
Sementara itu, Pecco Bagnaia, yang terlibat langsung dalam kecelakaan Zarco di Catalunya, menjelaskan bahwa perangkat ride-height hanya menjadi tantangan tambahan di beberapa sirkuit tertentu seperti Le Mans, Silverstone, dan Phillip Island karena karakter pengereman pertama yang tidak terlalu keras.
“Tanpa devices justru motor akan lebih banyak wheelie di lintasan lurus,” kata Bagnaia.
“Bukan devices yang meningkatkan jumlah cedera. Masalahnya sekarang kami melakukan start dua kali dalam satu akhir pekan dan semua pembalap ingin mendapatkan posisi sebanyak mungkin sejak awal karena overtaking semakin sulit.”
Pernyataan para pembalap memperlihatkan bahwa akar masalah insiden Tikungan 1 di MotoGP modern jauh lebih kompleks dibanding sekadar teknologi perangkat start. Kombinasi aerodinamika modern, tekanan ban depan, karakter sprint race, serta agresivitas lap pertama kini menciptakan situasi balapan yang semakin sensitif pada fase awal grand prix.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!