Formula 1, Sportrik Media - Red Bull Racing memperkuat struktur organisasinya menjelang musim Formula 1 2026 dengan merekrut Paul Gandolfi sebagai Chief Commercial Officer baru.
Langkah ini terjadi di tengah dinamika internal tim setelah berakhirnya era Christian Horner tahun lalu. Beberapa personel kunci memang dilaporkan meninggalkan tim dalam beberapa waktu terakhir, namun sumber RacingNews365 mengonfirmasi bahwa Gandolfi telah mulai bekerja dalam posisi barunya meskipun belum ada pengumuman resmi dari tim.
Gandolfi sebelumnya bekerja di agensi pemasaran olahraga Right Formula dalam posisi serupa, meski masa kerjanya kurang dari satu tahun. Pengalaman paling signifikan dalam kariernya datang saat ia menghabiskan lima tahun bersama Ferrari di divisi Formula 1, di mana ia berperan dalam mengamankan sejumlah kemitraan komersial bernilai tinggi.
Salah satu kontribusi utamanya adalah dalam kesepakatan sponsor utama antara Ferrari dan HP yang dimulai pada 2024. Kerja sama tersebut menandai kembalinya Ferrari memiliki title partner sejak 2021, dan diperkirakan bernilai sekitar 100 juta dolar AS per tahun atau setara sekitar Rp1,6 triliun per musim berdasarkan kurs rata-rata saat ini.
Rekrutmen Gandolfi mencerminkan upaya Red Bull untuk mempertahankan daya saing tidak hanya di sisi teknis, tetapi juga dalam kekuatan komersial di tengah perubahan lanskap regulasi 2026. Stabilitas finansial dan portofolio sponsor menjadi faktor strategis penting dalam era pembatasan biaya dan investasi jangka panjang.
Menurut sumber paddock, Red Bull masih aktif mencari profesional berpengalaman dengan reputasi kuat di berbagai area strategis lainnya. Restrukturisasi ini menjadi bagian dari proses adaptasi tim terhadap fase baru, termasuk peran Red Bull Powertrains sebagai pemasok power unit independen.
Sementara itu, di luar aspek komersial, perbincangan teknis di paddock Formula 1 juga terus berkembang menjelang musim baru. Salah satu isu yang menarik perhatian adalah interpretasi regulasi rasio kompresi mesin yang disebut-sebut memberi keunggulan tertentu bagi Mercedes.
Secara teknis, seluruh power unit mengikuti regulasi yang sama di atas kertas. Namun terdapat teori bahwa pendekatan tertentu terhadap rasio kompresi — yang diukur secara legal oleh FIA dalam kondisi statis — dapat menghasilkan karakteristik berbeda ketika mesin mencapai suhu operasional penuh di lintasan.
Pendekatan tersebut tidak dikategorikan sebagai pelanggaran, melainkan interpretasi kreatif terhadap regulasi. Namun seperti lazimnya di Formula 1, area abu-abu dalam aturan sering kali hanya bersifat sementara sebelum klarifikasi teknis atau penyesuaian regulasi diterapkan.
Bagi Red Bull, dinamika ini menunjukkan bahwa musim 2026 tidak hanya akan ditentukan oleh performa teknis di lintasan, tetapi juga oleh kekuatan organisasi dan kemampuan adaptasi di luar sirkuit. Dengan struktur baru dan penguatan di sisi komersial, tim asal Milton Keynes tersebut berupaya menjaga posisinya dalam era kompetisi yang semakin kompleks.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!