Lando Norris menghadapi kritik tajam dari Menteri Luar Negeri Argentina, Pablo Quirno, yang menuduhnya sebagai munafik terkait komentar Norris yang menyerukan larangan balap (ban) untuk Franco Colapinto setelah insiden kecelakaan beruntun di Grand Prix Azerbaijan. Insiden tersebut terjadi saat restart safety car dan melibatkan beberapa pembalap, termasuk rekan setim Colapinto di Alpine, Pierre Gasly, dan Norris sendiri.
Norris, yang merupakan pembalap McLaren dan juara dunia F1 saat ini, melontarkan kemarahannya usai insiden tersebut. Ia menilai FIA perlu bertindak lebih tegas terhadap pembalap yang menyebabkan kecelakaan saat restart. "FIA harus lebih tegas dan mulai memberikan larangan balap untuk hal-hal seperti ini," ujar Norris. "Ini ceroboh. Biayanya sangat besar. Semua komponen saya sekarang ada di tempat sampah, jadi orang-orang seperti ini seharusnya dilarang balap. Mereka tidak pantas berada di F1. Jika Anda menyebabkan kecelakaan saat restart seperti ini, setidaknya Anda harus mendapat larangan satu balapan."
Colapinto sendiri telah mengambil tanggung jawab penuh dan meminta maaf atas kesalahannya, mengakui bahwa ia berada di luar kendali dan membuat kesalahan besar. Namun, kemarahan Norris tampaknya memicu reaksi dari pihak lain. Pada Minggu, Menteri Luar Negeri Argentina, Pablo Quirno, melalui akun X (sebelumnya Twitter), menanggapi pernyataan Norris dengan menuduhnya munafik. Quirno menyoroti bahwa Norris tidak mendapat hukuman ketika ia menabrak rekan setimnya di McLaren, Oscar Piastri, di Grand Prix Kanada tahun lalu. "Tentu, Lando Norris menyerukan hukuman untuk pembalap yang menabrak Oscar Piastri di Montreal 2025," tulis Quirno. "Ah, tidak... benar."

Komentar Quirno tersebut memicu gelombang dukungan dari penggemar Argentina, yang membanjiri media sosial Norris dengan komentar-komentar pedas. Meskipun postingan terakhir Norris di media sosial sudah cukup lama, yaitu pada 17 September, hal ini menunjukkan bahwa kontroversi ini telah memicu sentimen nasionalistik di Argentina.
Insiden di Baku sendiri bermula ketika Colapinto, yang membalap untuk Alpine, kehilangan kendali atas mobilnya saat restart safety car dan menabrak Gasly serta Norris. Akibatnya, Gasly dan Norris harus tersingkir dari balapan. Colapinto kemudian mendapat penalti turun grid, namun banyak pihak menilai hukuman tersebut terlalu ringan. Norris, yang saat itu masih berpeluang meraih poin, sangat kecewa dengan insiden tersebut.
Sebelumnya, pihak Alpine melalui Direktur Eksekutif Flavio Briatore telah menyampaikan permintaan maaf kepada Norris dan McLaren atas kesalahan Colapinto. Briatore juga mengungkapkan bahwa tim sedang mempertimbangkan tindakan lebih lanjut. "Saya ingin meluangkan waktu untuk merenungkan hal ini dan mempertimbangkan tindakan apa yang harus diambil, sehingga kita bisa belajar dari ini dan menghindari situasi serupa di masa depan," kata Briatore dalam rilis pers Alpine. "Saya tahu Franco telah mengambil tanggung jawab penuh, seperti yang seharusnya; faktanya dia terlambat mengerem mengingat konteks balapan dan restart safety car. Itu adalah tindakan yang sangat buruk untuk pembalap dengan pengalamannya."
Kontroversi ini juga diperkeruh dengan ancaman Briatore terhadap penggemar Colapinto untuk melakukan blackout media sebagai respons atas pelecehan daring yang ditujukan kepada Gasly. Hal ini menunjukkan bahwa insiden di Baku tidak hanya berdampak pada balapan itu sendiri, tetapi juga memicu ketegangan di antara para penggemar dan pihak-pihak terkait.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Norris atau McLaren terkait tuduhan Quirno. Namun, jelas bahwa pernyataan Norris telah memicu perdebatan sengit tentang standar hukuman di F1 dan konsistensi penerapannya. Kasus ini juga menyoroti bagaimana insiden di lintasan dapat dengan cepat berkembang menjadi isu politik dan sosial, terutama ketika melibatkan pembalap dari negara tertentu.
Dengan musim yang masih panjang, insiden ini bisa menjadi preseden bagi FIA dalam menangani kecelakaan serupa di masa depan. Sementara itu, Colapinto harus menghadapi tekanan tambahan dari penggemar dan media, serta membuktikan bahwa dirinya pantas tetap berada di kursi Alpine.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!