Liam Lawson mengaku “bersyukur” mendapat kesempatan comeback dadakan bersama Red Bull di GP Belanda akhir pekan ini, tetapi ia juga sadar betul tugas yang menantinya tidak akan mudah. Pembalap asal Selandia Baru itu dipanggil mendadak untuk menggantikan Isack Hadjar yang cedera pergelangan tangan, hanya dua pekan setelah libur musim panas.
Lawson sebenarnya sudah bersiap menjalani rutinitas simulasi balapan bersama Racing Bulls di pangkalan tim di Inggris, Senin lalu. Namun, semuanya berubah dalam hitungan jam ketika ponselnya berdering. Di ujung sambungan, ada kepala tim Alan Permane yang memberitahu bahwa Hadjar mengalami cedera dan Lawson harus terbang ke Zandvoort. “Jadi, minggu saya berubah dengan cepat,” ujarnya kepada Motorsport.com.
Kembalinya Lawson ke Red Bull terasa sangat sirkuler. Di sirkuit yang sama, pada 2023, ia menjalani debut F1 bersama tim junior Red Bull setelah Daniel Ricciardo cedera tangan. Kala itu, Lawson tampil impresif dan akhirnya mendapat kursi penuh di Racing Bulls pada 2024, lalu dipromosikan ke Red Bull Racing untuk menggantikan Sergio Perez. Namun, dua seri pertama 2025 berubah mimpi buruk. Ia kesulitan dengan RB21 yang terkenal sulit dikendalikan dan langsung diturunkan kembali ke Racing Bulls, digantikan Yuki Tsunoda.

Momen itu sempat memicu kritik tajam karena Lawson dianggap melompati antrean di depan Tsunoda. Kini, setelah 18 bulan stabil di Racing Bulls dan lingkungan tim yang disebut lebih sehat di bawah kepemimpinan Laurent Mekies, Lawson merasa lebih siap. “Segalanya sangat berbeda di Red Bull, jujur saja. Saya tahu saya datang untuk akhir pekan ini, dalam situasi unik untuk memaksimalkan satu balapan. Sangat berbeda dengan berada di mobil sendiri, di tim sendiri,” jelasnya.
Namun, tantangan di Zandvoort tidak main-main. RB22 bukanlah karya terbaik tim, format sprint weekend membatasi waktu latihan, dan cuaca basah diprediksi akan menjadi ujian besar bagi generasi mobil F1 terbaru yang baru pertama kali balapan bersama dalam kondisi hujan deras. Lawson menegaskan, “Ini pasti akan menarik. Jelas trek yang sulit, cuaca juga.”
Meski hanya bertugas satu seri, Lawson bertekad membuktikan bahwa ia telah belajar banyak sejak kepergiannya dari Red Bull. “Saya sudah menjalani banyak balapan sejak itu, jadi saya belajar banyak hal. Saya ingin membawa sebanyak mungkin pelajaran itu ke akhir pekan ini,” pungkasnya. Semua mata kini tertuju pada bagaimana Lawson menaklukkan ‘rumah hantu’ yang pernah menjatuhkannya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!