Keputusan Max Verstappen untuk meneken perpanjangan kontrak bersama Red Bull hingga 2030 sontak mengguncang paddock Zandvoort. Bukan cuma soal loyalitas, tapi juga angka yang beredar di belakangnya sukses mencuri perhatian publik.
Verstappen menyebut tim asal Milton Keynes sebagai "keluarga kedua". Namun di balik pernyataan hangat itu, negosiasi yang berlangsung nyatanya tidak semulus yang dibayangkan. Pembalap Belanda itu datang dengan posisi tawar tinggi berkat klausul performa yang bisa melepaskannya dari kontrak pada akhir 2026.
Klausul itulah yang kemudian menjadi senjata ampuh Verstappen untuk meminta peningkatan gaji signifikan. Red Bull pun tak tinggal diam; demi mempertahankan sang juara dunia empat kali, mereka menyodorkan paket finansial yang disebut-sebut sulit ditandingi tim lain.

Meski detail resmi tak diumumkan, laporan dari Marc Limacher, penulis buku tahunan Business Book GP yang kerap mengupas aspek komersial Formula 1, menyebut Verstappen akan menerima gaji pokok 92 juta euro per tahun mulai 2027—naik dari 70 juta euro saat ini. Jika ditambah bonus, angka itu bisa menyentuh 115 juta euro per musim.
Akumulasi selama empat tahun? Sekitar 460 juta euro atau nyaris setengah miliar. Nilai yang hampir mustahil ditolak siapa pun, sekaligus sinyal betapa Red Bull menempatkan Verstappen sebagai pilar utama proyek teknis mereka pasca hengkangnya sejumlah personel kunci.
Selain faktor finansial, Verstappen juga mengisyaratkan harapannya pada perubahan regulasi di masa depan. Ia ingin Formula 1 kembali ke arah yang lebih "racing"—sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa keputusannya bertahan bukan semata soal uang, melainkan juga visi jangka panjang.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!