Christian Horner akhirnya buka suara soal hubungannya dengan Helmut Marko yang pernah menjadi mentor sekaligus pemicu ketegangan di Red Bull. Dalam wawancara dengan The Times, mantan team principal itu mengenang awal kariernya di Milton Keynes hingga perpecahan yang terjadi belakangan. Bukan sekadar cerita manis, ia menyebut Marko sebagai sosok yang membuka pintu, tapi juga yang kemudian menjadi bagian dari keretakan.
“Marko memberiku kesempatan pertama. Dia melihat sesuatu dalam diriku dan merekomendasikanku ke Dietrich Mateschitz,” ujar Horner. Rasa terima kasih itu tak lantas membuat hubungan mereka mulus. Horner merasa Marko masih memperlakukannya seperti anak asuh, bahkan ketika perannya sudah setara rekan kerja. Ketegangan memuncak menjelang akhir masa jabatan Horner.
“Beberapa hari sebelum pemecatanku, Marko datang ke rumahku bersama keluargaku. Dia tahu segalanya, tapi tidak mengatakan sepatah kata pun,” kenang Horner dalam buku autobiografinya, Drive, yang akan terbit 22 Oktober. Baginya, sikap itu terasa seperti pengkhianatan. Meski begitu, Horner mengakui karakter kerasnya turut memperkeruh keadaan. “Mungkin aku tipe orang yang dicintai atau dibenci. Aku tahu tidak semua orang menyukaiku. Lagipula itu mustahil,” tambahnya.

Yang paling mengejutkan, Horner mengungkap bahwa Marko awalnya tidak yakin dengan Max Verstappen. Menurut Horner, Marko menganggap Jos Verstappen—ayah Max—sebagai “sebuah mimpi buruk” dan merasa tim tidak perlu merekrut Max yang saat itu baru berusia 15 tahun. Padahal, Marko selama ini dianggap sebagai orang yang getol mendorong Verstappen ke tim junior Red Bull pada 12 Agustus 2014. Horner bahkan membantah klaim Marko beberapa bulan lalu yang menyebut dirinya harus memenangkan resistensi Horner untuk mempercepat debut Verstappen di Red Bull pada 2016.
Horner juga menyoroti cara Red Bull mengelola pembalap muda. “Aku tidak akan melakukannya seperti itu. Rasanya seperti harus selalu membersihkan kekacauan,” kritiknya. Pernyataan ini menambah dimensi baru pada dinamika internal tim yang telah meraih 14 gelar juara dunia. Konflik Horner-Marko bukan hanya soal ego, tapi juga tentang visi dan cara membina talenta.
Buku Drive yang akan rilis pekan depan diyakini memuat lebih banyak detail tentang perpecahan tersebut. Publik motorsport tentu menantikan apakah Marko akan memberikan tanggapan balik. Yang jelas, kisah di balik layar kejayaan Red Bull kini perlahan terungkap, menunjukkan bahwa di balik kesuksesan di lintasan, ada pergulatan personal yang tak kalah sengit.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!