Adrien Fourmaux kembali menjadi sorotan jelang putaran final WRC di Sardinia. Pembalap Prancis itu telah berulang kali menunjukkan kecepatan mumpuni, namun belum mampu mengonversinya menjadi kemenangan Rally1 yang didambakan.
Pada musim lalu, Fourmaux sempat bersaing ketat di barisan depan di Sardinia. Sayang, nasib buruk menghampirinya: ban bocor pada pagi hari kedua dan insiden off-road membuat posisinya melorot. “Sardinia adalah ajang di mana saya selalu cepat, tetapi karena berbagai alasan saya belum pernah mendapatkan hasil yang saya rasa mungkin,” ujarnya.
Tahun ini, ia bertekad mengubah catatan tersebut. “Rencananya adalah mengubahnya tahun ini,” tegas pembalap Hyundai itu. Ia juga menyoroti pergeseran jadwal reli dari awal musim panas ke Oktober. “Kemungkinan hujan lebih besar, meski kami juga pernah mengalami hujan di bulan Juni. Jika tetap kering, saya perkirakan kondisinya mirip dengan yang kita kenal,” tambahnya.

Jalan berkerikil berbatu di Sardinia tidak memberi ampun. Risiko ban bocor selalu mengintai. Untuk final musim ini, FIA selaku badan pengatur motorsport mengizinkan kesempatan penggantian ban tambahan. “Ini reli yang sangat menuntut bagi mobil dan kru,” kata Fourmaux.
Era mobil Rally1 generasi saat ini, yang tercepat dalam sejarah, akan berakhir di Sardinia. “Ini juga akan menjadi acara spesial sebagai putaran terakhir musim ini dan terakhir kalinya kami berlomba dengan generasi Rally1 ini. Kami ingin menyelesaikan musim dengan cara terbaik dan berjuang untuk hasil bagus,” pungkasnya.
Final musim WRC dimulai di Sardinia pada Jumat. Kejuaraan dunia musim ini akan ditentukan setelah 17 etape dan 307 kilometer. Pembalap Toyota, Elfyn Evans, Sami Pajari, dan Oliver Solberg, masih bersaing memperebutkan gelar.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!