Lewis Hamilton mengajukan solusi untuk mengurangi risiko tabrakan akibat perbedaan kecepatan ekstrem di sektor terakhir Sirkuit Baku. Namun, idenya ditolak mentah-mentah oleh tim-tim Formula 1. Pembalap Ferrari itu menyoroti insiden nyaris kecelakaan dengan Liam Lawson pada sesi latihan bebas Kamis lalu, di mana Lawson harus mengelak di kecepatan 300 km/jam untuk menghindari bagian belakang mobil Hamilton di tikungan 18/19.
Insiden tersebut mengungkap kelemahan regulasi energi F1 2026. Mobil-mobil yang kekurangan energi listrik memicu perbedaan kecepatan besar antara pembalap yang sedang menjalani out lap dan yang sedang push lap. Pasalnya, pembalap yang bersiap untuk lap cepat cenderung menghemat baterai hingga mendekati garis start-finish, sehingga mereka melintasi tikungan 18/19 tanpa tambahan tenaga.
Hamilton menilai selisih kecepatan hingga 50 km/jam dan sulitnya memperkirakan jarak saat melaju penuh tanpa daya maksimal memerlukan perubahan aturan manajemen energi. Dalam sidang bersama steward pada Kamis malam untuk membahas insiden Lawson—yang berujung pada reprimand untuk Hamilton—ia menyarankan agar FIA mewajibkan penggunaan energi penuh hingga setelah tikungan 19. "Saya katakan kepada mereka, seharusnya saat push lap, kita dapat tenaga maksimal keluar dari tikungan terakhir. Lalu saat melewati tikungan 19, reset, dan ada sedikit tenaga lebih di sini. Tidak boleh ada yang melaju lambat di tikungan 18/19," ujar Hamilton.

Dilansir dari The-Race, usulan itu dibahas dalam pertemuan pembalap pada Kamis malam. Namun, ide tersebut tidak mendapat dukungan karena dianggap terlalu terlambat untuk mengubah pola deployment energi secara drastis di tengah akhir pekan. Revisi penggunaan baterai hingga lintasan utama akan membuat tim harus memulai persiapan energi dari nol, dengan hanya satu jam latihan tersisa sebelum kualifikasi.
Direktur balap F1, Rui Marques, sebelumnya telah meminta pembalap yang berada di out lap untuk menjauh dari racing line antara tikungan 16 dan 18 agar tidak menghalangi. Lawson sendiri menjadi korban dari pelanggaran instruksi tersebut, yang menyebabkan Hamilton mendapat reprimand setelah FP2.
Keputusan untuk menolak ide Hamilton mencerminkan dilema antara keselamatan dan kepraktisan teknis. Tim-tim berpendapat bahwa perubahan besar pada aturan energi di tengah kompetisi bisa mengacaukan strategi yang sudah disusun. Meski demikian, insiden di Baku menjadi peringatan bahwa regulasi energi 2026 perlu dievaluasi lebih lanjut.
Dengan balapan yang semakin ketat, keselamatan pembalap harus tetap menjadi prioritas. Apakah FIA akan mempertimbangkan kembali usulan serupa di masa depan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi untuk sekarang, status quo tetap berlaku di Baku.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!