Colton Herta tidak menyerah pada mimpinya tampil di Formula 1. Meski musim perdananya di Formula 2 bersama Hitech berjalan jauh dari harapan, pembalap Amerika Serikat itu tetap percaya bahwa pintu menuju F1 masih terbuka, dengan target musim 2028.

Herta menyadari bahwa loncatan dari IndyCar ke F2 bukanlah hal mudah. “Adalah bodoh untuk duduk di sini dan berpikir bahwa saya akan langsung cepat, bahwa saya akan siap menang di balapan pertama,” ujarnya. “Saya mungkin lebih tua, tetapi soal kecepatan, para pembalap ini sama cepatnya dengan siapa pun di luar sana.”
Sayangnya, kenyataan di lintasan jauh lebih keras dari yang ia bayangkan. Hingga saat ini, pembalap yang juga merupakan anak didik Cadillac itu terpuruk di posisi ke-19 klasemen dengan koleksi 26 poin. Hasil terbaiknya adalah finis kelima di sprint race Barcelona, yang diraih dari posisi start ketiga pada grid terbalik. Di luar itu, penampilannya jauh dari memuaskan.

“Tidak ada yang spesifik, hanya saja semuanya sulit,” kata Herta kepada Motorsport.com dalam wawancara eksklusif. “Sayangnya, tidak ada banyak hal positif di titik mana pun. Entah kenapa, tidak ada kecepatan sama sekali, dan tidak ada yang berubah.” Ia bahkan mengaku bingung dengan defisit waktu yang mencapai tiga detik di kualifikasi. “Ini sungguh di luar nalar,” tambahnya.
Analisis Herta memang beralasan. Ia tampil menjanjikan di tes pramusim Barcelona dengan catatan waktu terbaik ke-11, hanya terpaut 0,574 detik dari Rafael Camara. Namun, performa itu tidak berlanjut. Dalam lima balapan pertama, ia rata-rata start dari posisi ke-14 dengan selisih 0,848 detik dari yang tercepat. Delapan sesi kualifikasi berikutnya justru semakin buruk: rata-rata posisi ke-18 dengan gap 1,088 detik. Puncaknya di Baku, di mana defisitnya membengkak hingga 2,484 detik di Q1 dan 3,091 detik di Q2.
Kecelakaan juga semakin sering menghampiri. Tiga insiden terjadi di Monza dan Madrid, menambah derita musim perdananya. “Ini menjengkelkan, tapi yang bisa kami lakukan hanyalah terus mencoba,” ujar Herta. “Saya tidak yakin apakah ini balapan terakhir [musim ini, dengan Qatar dan Abu Dhabi terancam karena perang Iran] atau masih ada lagi, tapi kami akan terus bekerja seperti masih ada dua balapan tersisa. Saya akan berusaha memaksimalkan semuanya.”
Meski musim ini tidak berjalan sesuai rencana, Herta tetap optimistis. Ia menyadari bahwa F2 adalah medan pembuktian yang sulit, terutama bagi pembalap yang melewatkan F3. Namun, ia percaya bahwa dengan kerja keras dan adaptasi, peluang menuju F1 pada 2028 masih terbuka. “Saya masih punya peluang,” tegasnya.
Dengan sisa musim yang masih menyisakan beberapa balapan, Herta bertekad untuk bangkit dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Jika ia mampu membalikkan keadaan, bukan tidak mungkin pintu menuju Formula 1 akan kembali terbuka lebar.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!