Nicolo Bulega telah menjadi buah bibir di paddock MotoGP belakangan ini. Pembalap Italia itu dikabarkan sudah menjajal motor 850cc Ducati dengan ban Pirelli selama 10 hari pengujian privat. Jumlah itu jauh melampaui jatah pembalap reguler lain yang baru akan merasakan motor baru pada tes pasca-musim di Valencia, 1 Desember mendatang.
Perubahan dari Michelin ke Pirelli untuk musim 2027 memang menjadi salah satu transisi terbesar dalam sejarah MotoGP modern. Dua hari tes resmi sudah digelar secara tertutup di Brno dan Spielberg, masing-masing pada Senin setelah balapan. Namun, hanya sebagian pembalap yang bisa ikut serta. Nama-nama seperti Fabio Quartararo, Francesco Bagnaia, Jorge Martin, dan beberapa rookie harus menunggu hingga Valencia untuk mencoba prototipe 850cc.
Kondisi cuaca diprediksi akan membuat tes Valencia lebih fokus pada adaptasi pembalap dengan tim baru dan penyesuaian posisi berkendara. Selain itu, jatah hari tes untuk musim depan juga dipangkas: pembalap reguler hanya mendapat dua hari di Sepang, lalu dua hari lagi di Buriram. Sebelum tes resmi Sepang, akan ada dua hari shakedown yang diperuntukkan bagi test rider dan rookie.

Di sinilah keunggulan Bulega semakin mencolok. Selain 10 hari tes privat, ia juga diizinkan ikut serta dalam shakedown dua hari di Sepang akhir Januari nanti. Artinya, total waktu yang ia habiskan dengan prototipe 850cc jauh lebih banyak dari pembalap lain. Hal ini memicu reaksi keras dari Pol Espargaro, test rider KTM yang turut hadir dalam tes privat Mugello antara balapan Misano dan Spielberg.
"Gila. Ini benar-benar gila. Dan saya juga akan bilang tidak adil, karena dia akan menjadi pembalap tetap tahun depan dengan jumlah kilometer yang luar biasa," ujar Espargaro. "Dia membangun motor ini di sekitarnya, itu akan sempurna untuknya. Dia akan tahu motornya dengan sempurna. Dia akan tahu bannya dengan sempurna. Dia akan mendapat dua hari ekstra di shakedown. Jadi jumlah pengalaman dan kecepatan yang akan dia miliki akan luar biasa."
Espargaro juga menyoroti ketidakadilan bagi pembalap yang naik dari Moto2 ke MotoGP dibandingkan dengan pembalap MotoGP yang bertahan. "Jika saya masih balapan, saya akan punya banyak keuntungan dibanding yang lain. Bayangkan Bulega yang datang dari kejuaraan yang motornya cukup mirip dengan..." ujarnya, menggambarkan betapa besar celah kompetitif yang tercipta.
Dengan regulasi teknis yang baru dan ban Pirelli yang berbeda, adaptasi menjadi kunci. Bulega, yang dikenal cepat beradaptasi, tampaknya sudah selangkah lebih maju. Namun, pertanyaan etis pun muncul: apakah ini strategi cerdas Ducati atau bentuk ketidakadilan sistemik? Yang jelas, paddock MotoGP sedang memanas, dan semua mata akan tertuju pada Bulega saat musim 2027 bergulir.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!