Mantan Kepala Tim Red Bull, Christian Horner, menegaskan bahwa kesuksesan yang diraih oleh unit daya terbaru tim di ajang Formula 1 tahun 2026 ini tidak lepas dari fondasi kuat yang telah ia bangun selama dua dekade memimpin skuad yang berbasis di Milton Keynes tersebut. Di tengah promosi autobiografinya yang bertajuk Drive, manajer asal Inggris ini terus membagikan berbagai kisah di balik layar mengenai petualangan panjangnya di kancah balap jet darat, termasuk dinamika hubungannya saat ini dengan para petinggi Red Bull yang ternyata jauh lebih harmonis dari perkiraan publik menyusul perpisahannya beberapa waktu lalu.
Dalam wawancara eksklusif bersama media Inggris The Race, Horner mengungkapkan bahwa dirinya menerima panggilan apresiasi dari jajaran manajemen tertinggi Red Bull usai kemenangan gemilang yang diraih oleh Max Verstappen di Malaysia dan Singapura. Kedua balapan tersebut menandai torehan historis bagi unit daya buatan Red Bull yang perencanaannya sempat didorong kuat oleh pria berusia 52 tahun tersebut sejak tahap awal pengembangan teknis.
Tim tersebut adalah entitas yang saya kumpulkan dan bangun sendiri, ujar Horner menjelaskan kontribusinya. Para pemegang saham, bahkan setelah kemenangan terkini di Singapura dan Malaysia, menghubungi dan berterima kasih kepada saya secara terpisah dengan merujuk langsung pada aspek fondasi tersebut. Oliver Mintzlaff, khususnya, menelepon saya dengan sangat baik setelah balapan di Singapura untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang telah saya bangun dan hasil yang berhasil mereka capai di lintasan.

Meskipun tidak lagi tercatat secara formal dalam struktur kepemimpinan saat pencapaian musim 2026 ini diraih, Horner secara terbuka tetap menganggap prestasi tersebut sebagai bagian dari legasinya. Fakta bahwa mesin ini, pada debut kompetitifnya, langsung dinilai sebagai yang paling bertenaga di Formula 1 dan mampu meraih kemenangan pada percobaan keenenam belas adalah sesuatu yang saya anggap sebagai salah satu pencapaian terbesar saya selama perjalanan di Red Bull, tutur mantan bos tim tersebut.
Hubungan antara Horner dengan dua faksi pemilik Red Bull yakni kubu Austria dan Thailand kini terpantau jauh lebih tenang setelah sempat diwarnai ketegangan menjelang akhir masa jabatannya. Saya memiliki hubungan yang baik dengan kedua pemegang saham, yakni keluarga Yoovidhya dan Mark Mateschitz; saya sangat menghargai komentar serta pesan yang mereka kirimkan. Saya telah menemui keduanya setelah meninggalkan tim dan semuanya kini sudah berlalu, tutup Horner.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!