SPONSORED

Bahrain GP di Malaysia, F1 Punya Sejarah Serupa

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Bahrain GP di Malaysia, F1 Punya Sejarah Serupa
TO NEWS OVERVIEW
© Red Bull Content Pool

Bahrain Grand Prix akan memiliki lokasi yang tidak biasa pada akhir pekan ini setelah balapan Formula 1 dipindahkan ke Sepang International Circuit, Malaysia. Situasi tersebut membuat nama negara yang tercantum dalam gelaran Grand Prix tidak lagi merepresentasikan lokasi tempat balapan berlangsung, sebuah kondisi yang ternyata memiliki sejumlah preseden dalam sejarah Formula 1.

Bahrain GP Pindah ke Malaysia

Balapan yang semula dijadwalkan berlangsung di Bahrain International Circuit pada April mengalami penundaan sebelum akhirnya dipindahkan ke Malaysia. Sepang International Circuit kemudian ditunjuk sebagai lokasi penyelenggaraan, sementara Bahrain tetap mempertahankan identitas nasional dalam nama Grand Prix melalui dukungan Gulf Air sebagai sponsor utama.

Perpindahan tersebut membuat Bahrain Grand Prix menjadi salah satu contoh paling mencolok mengenai bagaimana nama sebuah Grand Prix dan lokasi penyelenggaraannya dapat terpisah. Namun, sejarah Formula 1 menunjukkan bahwa persoalan serupa bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru.

Vettel Buka Peluang Kembali ke F1, Fokus Keberlanjutan
Baca JugaVettel Buka Peluang Kembali ke F1, Fokus Keberlanjutan

Swiss Grand Prix 1982 Digelar di Prancis

Salah satu contoh paling awal terjadi pada Swiss Grand Prix 1982. Swiss tidak menjadi tuan rumah balapan Kejuaraan Dunia Formula 1 di wilayahnya sendiri sejak 1954 setelah negara tersebut melarang balap motor di sirkuit menyusul tragedi Le Mans 1955.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, nama Swiss tetap muncul dalam kalender Formula 1 pada 1982. Balapan tersebut justru digelar di Dijon-Prenois, Prancis. Keke Rosberg kemudian memenangkan perlombaan dari posisi kedelapan di grid bersama Williams, diikuti Alain Prost dari Renault dan Niki Lauda dari McLaren.

San Marino dan Balapan di Imola

Contoh yang jauh lebih panjang datang melalui San Marino Grand Prix. Selama 26 tahun, sejak 1981 hingga 2006, nama San Marino menjadi bagian rutin dari kalender Formula 1. Namun, balapan tersebut tidak pernah berlangsung di wilayah republik kecil tersebut.

Regulasi FIA pada masa itu membatasi setiap negara untuk memiliki satu Grand Prix nasional. Italia sudah memiliki Grand Prix Italia yang digelar di Monza, sementara San Marino tidak memiliki sirkuit dengan standar yang diperlukan untuk menjadi tuan rumah Formula 1. Solusinya adalah menggunakan identitas San Marino untuk perlombaan yang berlangsung di Imola, Italia, tidak jauh dari perbatasan negara tersebut.

ADVERTISEMENT

Imola kemudian menjadi lokasi tetap San Marino Grand Prix hingga edisi terakhirnya pada 2006. Kasus tersebut menjadi salah satu contoh paling bertahan lama mengenai perbedaan antara identitas nasional sebuah Grand Prix dan negara tempat balapan benar-benar diselenggarakan.

Luxembourg GP Juga Digelar di Jerman

Pola serupa kembali muncul pada Luxembourg Grand Prix pada 1997 dan 1998. Perlombaan tersebut tidak digelar di Luxembourg, melainkan di Nürburgring, Jerman.

Hockenheim telah memiliki hak untuk menyelenggarakan German Grand Prix. Karena regulasi tidak memungkinkan dua balapan di negara yang sama menggunakan nama Grand Prix nasional yang sama, Luxembourg kemudian menjadi alternatif. Letak Luxembourg yang berjarak sekitar 80 kilometer dari Nürburgring membuat nama tersebut memiliki keterkaitan geografis dengan lokasi perlombaan.

ADVERTISEMENT

Jacques Villeneuve memenangkan edisi 1997 bersama Williams, sementara Mika Hakkinen menjadi pemenang pada 1998. Dua perlombaan tersebut memperlihatkan bagaimana aturan kalender dan kepentingan penyelenggara dapat menciptakan identitas Grand Prix yang berbeda dari lokasi sebenarnya.

European Grand Prix Menjelajah Tiga Negara

Kasus paling luas terjadi melalui European Grand Prix. Nama tersebut digunakan di enam sirkuit yang tersebar di tiga negara berbeda: Brands Hatch dan Donington Park di Inggris, Nürburgring di Jerman, Jerez dan sirkuit jalan raya Valencia di Spanyol, serta Baku di Azerbaijan.

European Grand Prix pada awalnya menjadi salah satu cara untuk menghadirkan balapan tambahan di sebuah negara tanpa melanggar aturan mengenai jumlah Grand Prix nasional. Nama tersebut juga memiliki fungsi promosi ketika Baku menggelar balapan Formula 1 pertamanya pada 2016. Namun, pada tahun berikutnya perlombaan tersebut berganti nama menjadi Azerbaijan Grand Prix.

ADVERTISEMENT

Dengan latar belakang tersebut, Bahrain Grand Prix di Malaysia pada 2026 bukanlah anomali dalam sejarah Formula 1. Sepang kini menjadi panggung bagi sebuah Grand Prix yang mempertahankan nama Bahrain, melanjutkan tradisi panjang ketika identitas sebuah negara dalam nama balapan tidak selalu berarti mobil-mobil Formula 1 akan berlomba di wilayah negara tersebut.

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Aman, Cepat & Terenkripsi

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

RECOMMENDED FOR YOU