Alex Powell membuktikan bahwa peluang sekecil apa pun bisa menjadi titik balik. Setelah dua musim yang penuh lika-liku, pembalap berusia 19 tahun itu kembali ke Prema untuk dua putaran terakhir FIA Formula 3 di Monza dan Madrid, menggantikan Louis Sharp yang memilih mundur untuk fokus ke 2027. Kesempatan yang datang tiba-tiba ini tidak disia-siakan.
Keputusan Powell untuk menerima tawaran tersebut bukan tanpa alasan. "Kami tidak berniat berada di sini. Ini muncul begitu saja. Saya belum pernah melakukan tes di mobil F3, jadi keputusan ini sangat mendadak," ujarnya kepada Formula Scout di paddock Monza. "Kami lebih fokus ke tahun depan, tapi kemudian kami mendapat telepon bahwa kursi itu kosong. Kami langsung bilang, 'Ya'. Ini kesempatan bagus untuk belajar dan tentu saja menjaga nama saya di paddock FIA."
Kembali ke Prema terasa seperti pulang ke rumah bagi Powell, meskipun banyak personel tim telah berganti. "Ya, banyak yang berubah, tapi pada saat yang sama tidak, dan rasanya seperti kembali ke awal. Saya ingat berada di Monza pada 2024 menonton pembalap F3 dan berharap suatu hari bisa berada di sana. Jadi, berada di sini dua tahun kemudian sungguh keren," kenangnya.

Mengendarai mobil F3 sendiri menjadi pengalaman luar biasa. "Wow, sangat keren," ujarnya antusias. "Bagi saya, ini salah satu mobil favorit yang pernah saya kemudikan. Yang langsung menonjol adalah rasio tenaga terhadap berat. Sensasinya langsung terasa. Pertama kali saya juga mengoperasikan DRS. Itu sesuatu yang harus dipelajari. Tapi bagi saya, mobilnya, terutama dalam kondisi balapan, sangat menyenangkan."
Meski minim persiapan, Powell merasa cepat menyatu dengan mobil. "Latihan bebas menjadi baseline yang baik. Itu pertama kalinya saya memakai ban soft dan berakhir di tengah pack, jadi sejujurnya saya berharap ada peningkatan di kualifikasi," jelasnya. Namun, harapan itu pupus di kualifikasi Monza yang penuh ketidakpastian. Dengan 30 mobil terbagi dalam dua grup, masing-masing hanya mendapat 15 menit untuk mencatat waktu. "Kualifikasi berantakan," akunya. "Hanya satu lap. Saya belum pernah mengalami hal seperti itu dan saya membuat kesalahan, menempatkan diri di posisi buruk dan berjuang di dua sektor pertama. Bukan karena ban tidak siap atau saya tidak mengemudi dengan baik. Saya bahkan tidak mendapatkan satu lap; itu hanya kekacauan. Ini sangat menyakitkan karena tiba-tiba akhir pekan menjadi jauh lebih sulit, dan mengubah cara orang memandang akhir pekan. Tapi dari dalam, saya pikir ada banyak hal yang bisa dibanggakan."
Memulai balapan dari posisi 24 di kedua race, Powell harus berjuang keras di tengah pack yang padat. Meski demikian, penampilannya di Madrid menunjukkan kualitasnya. Di sirkuit Madring, ia berhasil menunjukkan kecepatan yang selama ini tersembunyi. "Saya pikir di Madrid kami menunjukkan potensi sebenarnya," tambahnya. "Kualifikasi berjalan lebih baik, dan balapan juga kompetitif. Itu pengingat bahwa saya bisa bersaing di level ini."
Bagi Powell, pengalaman ini bukan sekadar mengisi kursi kosong. Ini adalah langkah penting untuk membangun kembali momentum kariernya. Setelah dua musim yang menjanjikan namun berakhir mengecewakan, ia ingin membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan di jajaran pembalap muda berbakat. Dengan Prema, tim yang telah melahirkan banyak juara, Powell berharap dapat terus berkembang dan meraih hasil yang lebih baik di masa depan.
Kesempatan di F3 ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Powell untuk menarik perhatian tim-tim F2 atau bahkan F1. Dengan usia yang masih muda dan bakat yang dimiliki, ia memiliki potensi besar untuk melangkah lebih jauh. Yang jelas, penampilannya di Monza dan Madrid telah memberikan sinyal bahwa Alex Powell belum selesai bersinar.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!