Menghadapi akhir pekan balap Formula 1 di sirkuit jalan raya yang melelahkan menuntut persiapan fisik yang luar biasa, namun Valtteri Bottas memilih cara yang sama sekali tidak biasa untuk mencapai garis start. Dilansir dari Motorsport Week, pembalap asal Finlandia tersebut memutuskan untuk melakukan perjalanan sepeda epik dari Malaysia menuju Singapura demi menyambut GP akhir pekan ini di Marina Bay Circuit.
Perjalanan darat yang menguji ketahanan fisik ini menempuh jarak lebih dari 740 kilometer dalam kurun waktu empat hari, dengan sebagian besar jarak tersebut diselesaikan pada dua hari di tengah jadwal. Tantangan yang dihadapi oleh sang pembalap tentu bukan sekadar masalah aspal dan kelembapan udara Asia Tenggara, melainkan juga berbagai kejutan liar di sepanjang jalur pedesaan yang dilaluinya.
Di balik keseruan mengayuh pedal melewati pemandangan eksotis, Valtteri Bottas mengakui bahwa ia sempat mengalami beberapa momen yang cukup mencemaskan akibat kehadiran satwa liar. Pengalaman menegangkan tersebut meliputi perjumpaan dengan ular-ular eksotis hingga kadal berukuran besar yang melintas tiba-tiba di hadapannya tanpa diduga.

"Saya melihat beberapa ular, yang sempat membuat saya sedikit khawatir, tetapi sebenarnya mereka cukup santai," ujarnya. "Mereka hanya melakukan aktivitas mereka sendiri. Saya melihat satu kobra, saya melihat satu ekor piton yang sedang menyeberang jalan di depan saya, saya melihat beberapa kadal besar yang juga bisa Anda lihat di sini."},
Situasi semakin menantang ketika ia harus menghindari rintangan hidup di jalan sempit, mulai dari aksi melompat di detik-detik terakhir hingga berurusan dengan hewan ternak lokal. "Salah satu kadal berada di jalur saya, saya harus melompatinya dengan sepeda, jadi saya melihatnya di detik terakhir. Saya dikejar oleh seekor kambing. Saya terjebak di belakang sekelompok sapi di jalur kecil. Pada akhirnya, mereka menyingkir."
Ide di balik perjalanan raksasa menuju Singapura ini awalnya bermula dari sang kekasih sekaligus atlet balap sepeda profesional jalan raya, Tiffany Cromwell, meskipun awalnya hanya disampaikan sebagai sebuah candaan belaka. Ketika ditanya mengenai bagian paling liar dari petualangan tersebut, ia menjelaskan bahwa suara-suara alam liar di malam hari memberikan sensasi psikologis tersendiri yang menguji mental.
"Suara di sana seperti ketika pikiran Anda mulai mempermainkan apa yang ada di luar sana," tambahnya. "Siapa yang tahu apa yang ada di luar sana, tetapi Anda harus terus melaju dan tetap jalan. Berkeliling dengan menyalakan lampu di malam hari mungkin merupakan bagian paling epik di dalam hutan."



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!