Guenther Steiner menanggapi santai spekulasi masa depan Christian Horner di Formula 1. Mantan bos Haas itu menilai peluang Horner bergabung dengan Ferrari hanyalah bagian dari strategi publisitas menjelang rilis buku barunya. Pernyataan ini muncul setelah Horner secara terbuka mengakui bahwa bekerja di Maranello adalah 'mimpi' dan satu-satunya tim di mana ia mau menerima peran non-kepemilikan.
Berbicara di podcast The Red Flags, Steiner menyoroti bahwa Horner sedang menyesuaikan rencananya untuk kembali ke F1. "Saya pikir Christian ingin kembali ke Formula 1, dan dia bilang jelas tidak mau bekerja untuk siapa pun lagi. Rencana A-nya tidak berhasil, jadi dia beralih ke rencana B, dan dia tidak akan mendapat saham di Ferrari jika bekerja di sana," ujar Steiner. "Saya pikir dia ingin masuk dan melihat peluang di sana."
Steiner juga menyentil aspek komersial dari pernyataan Horner. Menurutnya, tidak ada ruginya bagi Horner karena ia sedang merilis buku, sehingga spekulasi ini setidaknya memberikan sedikit publisitas. "Hal lain, tidak ada yang buruk baginya. Dia merilis buku, jadi itu akan membantu penjualan, atau mungkin tidak, kita tidak tahu, tapi setidaknya itu sedikit publisitas," tambahnya.

Lebih lanjut, Steiner meragukan kemungkinan Horner dan Fred Vasseur bekerja sama di Ferrari. Ia menilai Vasseur adalah sosok sukses dan tidak akan mau menjadi bawahan Horner. "Saya tidak berpikir Fred akan tinggal di sana bekerja untuk Christian. Fred sendiri adalah orang yang sangat sukses. Pertama, saya tidak tahu apakah Fred ingin pergi atau harus pergi. Pada akhirnya, Fred punya kontrak, dan seberapa berharga kontrak di F1? Tidak banyak, tapi tidak ada ruang untuk keduanya. Itu pendapat saya," tegas Steiner.
Spekulasi ini mencuat setelah Horner memberi wawancara kepada The Times, di mana ia menyatakan bahwa Ferrari adalah satu-satunya tim yang membuatnya tertarik mengambil peran kepemimpinan tanpa kepemilikan. Pernyataan tersebut memicu diskusi tentang masa depan Vasseur, yang kontraknya akan berakhir pada akhir 2025. Meski demikian, Vasseur telah menunjukkan performa solid dengan membawa Ferrari bersaing di papan atas.
Dari kacamata analisis, situasi ini mencerminkan dinamika politik di paddock F1 yang tak pernah sepi. Horner, yang pernah membawa Red Bull mendominasi era 2010-an, kini mencari jalan kembali setelah hengkang dari kursi team principal. Sementara Ferrari, di bawah Vasseur, sedang membangun fondasi untuk merebut gelar juara dunia. Jika Horner benar-benar bergabung, potensi konflik kepemimpinan bisa mengganggu stabilitas tim.
Namun, seperti kata Steiner, semua ini bisa jadi hanya gimmick belaka. Yang jelas, publik F1 akan terus menantikan perkembangan selanjutnya, terutama menjelang musim 2026 yang akan membawa perubahan regulasi besar. Apakah Horner benar-benar serius dengan Ferrari, atau ini hanya strategi marketing? Waktu yang akan menjawab.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!