Legenda Le Mans, Tom Kristensen, melontarkan pandangan jujurnya soal arah baru Formula 1 2026. Menurutnya, regulasi anyar yang mulai berlaku musim ini tampaknya lebih menghargai kecerdasan dibanding keberanian murni di atas lintasan.
Regulasi teknis yang diperkenalkan pada 2026 memang mengubah total DNA Formula 1. Perubahan paling besar terjadi pada sektor power unit, di mana mesin kini memadukan tenaga listrik dan pembakaran hampir dalam porsi 50-50. Konsekuensinya, para pembalap harus bermain sangat cerdas dalam mengelola energi, dan alat-alat yang mereka miliki di kokpit tidak sepenuhnya menyenangkan—baik bagi pembalap maupun penggemar.
Memasuki putaran ke-11 musim 2026, kritik terus mengalir deras. Fenomena lift-and-coast, superclipping, serta perintah turun gigi di trek lurus demi mengisi baterai dinilai menenggelamkan tontonan balap. Gaya membalap pun berubah drastis, terutama di tikungan-tikungan yang dulu dianggap ikonik karena menuntut keberanian ekstrem, seperti Copse, Maggots, Becketts, esses Suzuka, hingga Eau Rouge. Kini, pembalap justru menghitung kecepatan masuk tikungan agar baterai tidak habis saat tiba di trek lurus.

Kristensen, yang sembilan kali menjuarai Le Mans, menilai bahwa F1 modern kini lebih menguntungkan pembalap yang cerdas daripada yang sekadar berani. "Di beberapa sirkuit, tentu saja, seperti Hungaria, mereka bisa melaju hampir full throttle," ujarnya di GP Hungaria. "Tapi benar juga bahwa di Silverstone, Spa, Suzuka, mungkin Baku, juga Monza, Anda akan menemui situasi seperti itu. Ini menunjukkan betapa kompleksnya Formula 1 saat ini."
Ia menambahkan, "Pembalap tidak memutuskan, jadi saya rasa melewati tikungan yang dulu kami sebut 'tikungan lelaki sejati' kini tidak begitu memberi kepuasan. Anda harus melihat dengan lebih cerdas bagaimana mendekati tikungan seperti itu. Kadang itu tidak begitu menyenangkan."
Meski begitu, Kristensen memahami bahwa F1 adalah puncak motorsport dan harus mengikuti perkembangan teknologi. "F1 itu rumit dan kompleks. Ini tentang menjadi cerdas, menciptakan peluang, dan mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Jika itu berarti Anda harus melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda, saya juga mengapresiasinya," katanya.
Namun, ia juga memaklumi kritik pedas dari pembalap seperti Max Verstappen yang tidak menikmati mobil 2026. "Dari perspektif pembalap, tentu kami senang dihargai ketika berhasil melewati tikungan di ujung pisau. Jadi, ya, ada sedikit konflik di sana," ungkapnya. "Mungkin bisa dikatakan bahwa ini sedikit di bawah ekspektasi terkait teknologi modern. Tapi itu akan disesuaikan ke depan. Di F1, jika seseorang punya keunggulan, mereka tentu enggan berubah. Itulah dinamika berada di garis terdepan olahraga paling sulit di dunia."
Menuju 2027, FOM dan FIA telah mendengar keluhan para pembalap dan berencana mengubah alokasi tenaga mesin menjadi 60-40, lebih berpihak pada pembakaran internal, yang akan diterapkan pada 2028. Ini menjadi sinyal bahwa arah regulasi 2026 belum final dan akan terus dievaluasi demi menjaga esensi balap.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!