Charles Leclerc mengakhiri sesi Sprint Qualifying GP Belanda dengan senyum lebar. Meski hanya finis ketiga, start P3 di Sprint Race Zandvoort terasa seperti kemenangan kecil bagi pembalap Ferrari tersebut. Ia tertinggal hanya 55 milidetik dari polesitter George Russell, namun yang membuatnya bahagia bukan sekadar angka—melainkan perasaan menyatu dengan mobilnya.
Di sirkuit Zandvoort yang sempit dan menantang, Leclerc tampil konsisten sejak sesi latihan. Ia mengaku nyaman dengan SF-26 sejak pagi, dan hasil SQ3 membuktikan bahwa arah pengembangan mobil mulai membuahkan hasil. “Ini mungkin lap time terbaik saya tahun ini,” ujarnya kepada Sky Sports F1, sambil menekankan bahwa sensasi di balik kemudi terasa berbeda dibanding balapan-balapan sebelumnya.
Meski demikian, ada sedikit rasa penyesalan karena gagal mengamankan posisi terdepan. Namun Leclerc lebih memilih melihat sisi positif: “Kami masih kurang sedikit untuk pole, tapi setidaknya kami bisa bertarung di depan.” Pernyataan itu menjadi angin segar bagi Tifosi yang menantikan kebangkitan Ferrari setelah libur musim panas.

Berbeda dengan rekan setimnya, Lewis Hamilton, yang menyebut lap SQ3-nya sebagai “bencana total,” Leclerc justru merasa performa ini adalah langkah maju yang signifikan. Ia juga menyinggung bahwa kondisi trek yang berubah-ubah pagi ini membuat pengaturan setelan semakin rumit, tetapi tim berhasil menemukan kompromi yang tepat.
Sekarang perhatian beralih ke Sprint Race yang akan berlangsung Sabtu sore. Leclerc sadar bahwa balapan sprint sering kali menjadi penentu arah seri. “Kami harus menunggu dan melihat bagaimana sprint besok, tapi ini awal yang positif,” pungkasnya. Dengan kepercayaan diri yang mulai terbangun, mampukah ia menembus dua besar? Kita saksikan bersama.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!