Kegeraman melanda paddock Formula 1 setelah Carlos Sainz melontarkan kritik keras kepada Federasi Automotif Internasional menyusul insiden kendala daya yang dinilai merusak keadilan kompetisi dalam sesi kualifikasi sprint. Badan pengatur balapan tersebut secara resmi mengonfirmasi bahwa telah terjadi kesalahan manusia dari pihak pengawas lomba yang mengakibatkan para pembalap mendapatkan tingkat tenaga berbeda pada fase akhir SQ1, menyusul insiden kecelakaan yang dialami oleh Sergio Perez.
Masalah teknis tersebut membuat sejumlah pembalap tidak bisa mengakses tambahan energi deployment dari Mode Overtake, sementara sebagian pesaing justru sempat merasakan keuntungan dari ketersediaan tenaga ekstra tersebut. Situasi pelik ini jelas memicu ketimpangan performa yang berpotensi memengaruhi hasil akhir sesi secara keseluruhan. Sainz, yang harus menerima kenyataan tersingkir lebih awal di SQ1 dan menduduki posisi start ke-22 akibat kendala pengereman serta ban,, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya yang mendalam terhadap situasi yang menimpa dirinya.
Dalam wawancara bersama Sky Sports F1, pembalap tim Williams tersebut secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan federasi yang dinilai tidak konsisten. "Ada masalah perangkat lunak lain pada mobil kali ini dan kami berada di sisi yang merugikan," ungkap Carlos Sainz kepada Sky Sports F1. Ia menambahkan bahwa pihak otoritas seolah mengabaikan prinsip sportivitas dengan membiarkan separuh mobil kualifikasi melaju dengan tenaga lebih tinggi dibanding separuh mobil lainnya, seraya mempertanyakan mengapa olahraga ini terus mengambil keputusan berbeda tergantung siapa yang tersingkir.

Lebih lanjut, pembalap asal Spanyol itu mengeklaim bahwa ketimpangan tenaga tersebut telah merugikan catatan waktunya hingga sekitar setengah detik, kendati ia tetap mengakui bahwa problem pada rem dan ban membuat lajunya tetap berat untuk bisa lolos ke fase berikutnya. Berdasarkan keterangan resmi usai sesi, FIA mengakui bahwa kekacauan tersebut bersumber dari kelalaian di ruang kendali lomba, bukan disebabkan oleh gangguan sistem pewaktuan terpisah yang turut mewarnai jalannya SQ1.
Mode Overtake mulanya sengaja dinonaktifkan selama periode bendera merah, namun para petugas gagal mengaktifkannya kembali ketika mobil-mobil kembali turun ke lintasan dengan sisa waktu enam menit. Setelah kesalahan itu disadari, sistem sempat dihidupkan kembali hanya dalam kurun waktu 27 detik sebelum akhirnya dimatikan lagi, menciptakan kondisi acak di mana ketersediaan tenaga sangat bergantung pada posisi pembalap saat melakukan flying lap. Keluhan serupa juga dilontarkan oleh Isack Hadjar serta George Russell yang merasakan langsung dampak pengaturan FIA tersebut di atas lintasan.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!